Budget Habis Melulu Akibat Sering Belanja Skincare?

Ladies, apa kamu sedang mengalami wajah yang bruntusan mirip jerawat yang tidak kunjung sembuh meski sudah menggunakan skincare? Jika “iya”, kemungkinan besar bruntusan tersebut bukanlah jerawat. Tapi bruntusan itu disebabkan oleh jamur atau disebut “fungal acne”. Lalu, bagaimana ciri-ciri fungal acne itu sendiri? Simak penjelasan lengkapnya yang sudah dirangkum Beautynesia dari berbagai sumber. Fungal acne merupakan masalah kulit yang disebabkan oleh jamur Malassezia Folliculitis. Ciri-ciri fungal acne berbentuk mirip seperti jerawat, berbintik kecil menggelembung yang jumlahnya sangat banyak. Sehingga, saat diraba, tekstur kulit jadi kasar. Biasanya, timbul di area dahi, dada, dan punggung Ladies. Ciri-ciri fungal acne lainnya, saat cuaca sedang panas, fungal acne akan terasa gatal dan terlihat merah meradang. Jika menghadapi kondisi ini, usahakan tidak menggaruk secara berlebihan agar tidak melukai kulit. Meski ciri-ciri fungal acne mirip jerawat, tapi, faktor penyebabnya tidak 100% sama dengan jerawat. Secara garis besar, jerawat ditimbulkan oleh bakteri dan hormon, sedangkan fungal acne ada karena jumlah jamur yang berlebihan pada permukaan kulit. Berikut faktor umum timbulnya fungal acne. 2. Memakai skincare berbahan Undecylenic Acid, Lauric, Tridecylic, Stearic / Octadecanoic, Oleic / Octadecenoic, Linoleic. 2. Menggunakan sabun dan skincare berbahan sulfur, salicylic acid, propolis, urea, ketoconazole. 3. Sementara, hindari scrubbing wajah untuk mencegah iritasi kulit. Bisa diganti dengan treatment lidah buaya pada malam hari Ladies. 5. Memilih makanan sehat seperti sayur dan buah. 6. Hindari makanan berlemak, tinggi gula dan karbohidrat seperti gorengan, junk food, susu, dan masih banyak lainnya. Apabila bruntusanmu semakin parah dan tidak kunjung sembuh, lebih baik segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit. Budget Habis Melulu Akibat Sering Belanja Skincare?

Herrmann J, Lagrange P (2005). “Dendritic cells and Mycobacterium tuberculosis: which is the Trojan horse?”. Agarwal R, Malhotra P, Awasthi A, Kakkar N, Gupta D (2005). “Tuberculous dilated cardiomyopathy: an under-recognized entity?”. Grosset J (2003). “Mycobacterium tuberculosis in the Extracellular Compartment: an Underestimated Adversary”. Crowley, Leonard V. (2010). An introduction to human disease : pathology and pathophysiology correlations (edisi ke-8th ed.). Sudbury, Mass.: Jones and Bartlett. Anthony, Harries (2005). TB/HIV a Clinical Manual (edisi ke-2nd). Geneva: World Health Organization. Jacob, JT (2009 Jan). The American journal of medicine. Bento, J (2011 Jan-Feb). Escalante, P (2009 Jun 2). “In the clinic. Tuberculosis”. Annals of internal medicine. 150 (11): ITC61-614; quiz ITV616. Metcalfe, JZ (2011 Nov 15). “Interferon-γ release assays for active pulmonary tuberculosis diagnosis in adults in low- and middle-income countries: systematic review and meta-analysis”. The Journal of infectious diseases. 204 Suppl 4: S1120-9. Sester, M (2011 Jan). The European respiratory journal : official journal of the European Society for Clinical Respiratory Physiology.

Perusakan jaringan dan nekrosis sering kali seimbang dengan kecepatan penyembuhan dan fibrosis. Jaringan yang terinfeksi berubah menjadi parut dan lubang-lubangnya terisi dengan material nekrotik kaseosa tersebut. Selama masa aktif penyakit, beberapa lubang ini ikut masuk ke dalam saluran udara bronkhi dan material nekrosis tadi bisa terbatukkan. Material ini mengandung bakteri hidup dan dapat menyebarkan infeksi. Pengobatan menggunakan antibiotik yang sesuai dapat membunuh bakteri-bekteri tersebut dan memberi jalan bagi proses penyembuhan. Saat penyakit sudah sembuh, area yang terinfeksi berubah menjadi jaringan parut. Sangat sulit mendiagnosis Tuberkulosis aktif hanya berdasarkan tanda-tanda dan gejala saja. Sulit juga mendiagnosis penyakit ini pada orang-orang dengan imunosupresi. Meski demikian, orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka memiliki penyakit paru-paru atau gejala konstitusional yang berlangsung lebih dari dua minggu maka bisa jadi orang tersebut tertular TB. Gambar sinar X dada dan pembuatan beberapa kultur sputum untuk basil tahan asam biasanya menjadi salah satu bagian evaluasi awal. Uji pelepasan interferon-γ (IGRAs) dan tes kulit tuberkulin tidak optimal diterapkan di dunia berkembang.

Maryn McKenna (12 January 2012). “Totally Resistant TB: Earliest Cases in Italy”. Ricky Reynald Yulman (1 April 2015). “TB, Bakteri Lebih Cepat Terdeteksi”. Lambert M; et al. 2003). “Recurrence in tuberculosis: relapse or reinfection?”. Wang, JY (15 July 2007). “Prediction of the tuberculosis reinfection proportion from the local incidence”. The Journal of infectious diseases. 196 (2): 281-8. doi:10.1086/518898. World Health Organization (2009). “The Stop TB Strategy, case reports, treatment outcomes and estimates of TB burden”. Global tuberculosis control: epidemiology, strategy, financing. World Health Organization. “WHO report 2008: Global tuberculosis control”. FitzGerald, JM (2000 Feb 8). “Tuberculosis: 13. Control of the disease among aboriginal people in Canada”. Quah, Stella R.; Carrin, Guy; Buse, Kent; Kristian Heggenhougen (2009). Health Systems Policy, Finance, and Organization. Boston: Academic Press. hlm. Anne-Emanuelle Birn (2009). Textbook of International Health: Global Health in a Dynamic World. World Health Organization. “Global Tuberculosis Control Report, 2006 – Annex 1 Profiles of high-burden countries” (PDF).

Bersin dapat melepaskan partikel kecil-kecil hingga 40,000 titis. Tiap titis bisa menularkan penyakit Tuberkulosis karena dosis infeksius penyakit ini sangat rendah. Biasanya, hanya mereka yang menderita TB aktif yang dapat menularkan penyakit ini. Orang-orang dengan infeksi laten diyakini tidak menularkan penyakitnya. Kemungkinan penyakit ini menular dari satu orang ke orang lain tergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain jumlah titis infeksius yang disemprotkan oleh pembawa, efektivitas ventilasi lingkungan tempat tinggal, jangka waktu paparan, tingkat virulensistrain M. tuberculosis, dan tingkat kekebalan tubuh orang yang tidak terinfeksi. Untuk mencegah penyebaran berlapis dari satu orang ke orang lainnya, pisahkan orang-orang dengan TB aktif (“nyata”) dan masukkan mereka dalam rejimen obat anti-TB. Setelah kira-kira dua minggu perawatan efektif, orang-orang dengan infeksi aktif yang non-resisten biasanya sudah tidak menularkan penyakitnya ke orang lain. Bila ternyata kemudian ada yang terinfeksi, biasanya perlu waktu tiga sampai empat minggu hingga orang yang baru terinfeksi itu menjadi cukup infeksius untuk menularkan penyakit tersebut ke orang lain.

Pada tahun 2007, diperkirakan ada 13,7 juta kasus kronis yang aktif di tingkat global. Pada tahun 2010, diperkirakan terjadi pertambahan kasus baru sebanyak 8.8 juta kasus, dan 1,5 juta kematian yang mayoritas terjadi di negara berkembang. Tuberkulosis tidak tersebar secara merata di seluruh dunia. Dari populasi di berbagai negara di Asia dan Afrika yang melakukan tes tuberkulin, 80%-nya menunjukkan hasil positif, sementara di Amerika Serikat, hanya 5-10% saja yang menunjukkan hasil positif. Masyarakat di negara berkembang semakin banyak yang menderita tuberkulosis karena kekebalan tubuh mereka yang lemah. Biasanya, mereka mengidap tuberkulosis akibat terinfeksi virus HIV dan berkembang menjadi AIDS. Pada tahun 1990-an, Indonesia berada pada peringkat-3 dunia penderita TB, tetapi keadaan telah membaik dan pada tahun 2013 menjadi peringkat-5 dunia. Gejala utama jenis dan stadium TB ditunjukkan dalam gambar. Banyak gejala yang tumpang tindih dengan jenis lain, tetapi ada pula gejala yang hanya spesifik (tapi tidak seluruhnya) pada jenis tertentu.

Sekitar 90% orang yang terinfeksi M. tuberculosis mengidap infeksi TB laten yang bersifat asimtomatik, (kadang disebut LTBI/Latent TB Infections). Seumur hidup, orang-orang ini hanya memiliki 10% peluang infeksi latennya berkembang menjadi penyakit Tuberkulosis aktif yang nyata. Risiko TB pada pengidap HIV untuk berkembang menjadi penyakit aktif meningkat sekitar 10% setiap tahunnya. Infeksi TB bermula ketika mikobakteria masuk ke dalam alveoli paru, lalu menginvasi dan bereplikasi di dalam endosom makrofag alveolus. Lokasi primer infeksi di dalam paru-paru yang dikenal dengan nama “fokus Ghon”, terletak di bagian atas lobus bawah, atau di bagian bawah lobus atas. Tuberkulosis paru dapat juga terjadi melalui infeksi aliran darah yang dikenal dengan nama fokus Simon. Infeksi fokus Simon biasanya ditemukan di bagian atas paru-paru. Penularan hematogen (melalui pembuluh darah) ini juga dapat menyebar ke lokasi-lokasi lain seperti nodus limfa perifer, ginjal, otak dan tulang. Tuberkulosis berdampak pada seluruh bagian tubuh, meskipun belum diketahui kenapa penyakit ini jarang sekali menyerang jantung, otot skeletal, pankreas, atau tiroid.

Leave a Comment