4 Manfaat Skincare Di Malam Hari Untuk Kulit Wajah

Nah, kalau kamu rutin melakukan skincare di malam hari, tentu saja kamu dapat menjauhkan kulit dari penuaan dini. Selain itu kulit akan terasa kenyal dan terlihat glowing kalau kamu rutin merawat wajah di malam hari. Rutin melakukan skincare di malam hari juga bisa membantu mencerahkan kulit wajah. Setelah membersihkan kulit dari berbagai kotoran dan make-up, ya, kulit kamu akan bisa bernapas kembali sekaligus menyerap skincare yang kamu aplikasikan di malam hari. Contoh salah satu skincare untuk malam hari yang bisa membantu mencerahkan kulit kamu adalah penggunaan serum dan krim malam yang bila digunakan secara rutin, tuh, bisa memberikan hasil maksimal sesuai keinginan kamu. Sstt, anggap saja investasi jangka panjang! Ternyata ada banyak sekali manfaat skincare di malam hari yang bisa kamu dapatkan, ya? Jadi, sekarang kamu tidak boleh malas untuk melakukan perawatan di malam hari kalau ingin memiliki kulit yang sehat, cerah, dan glowing. Apakah kamu orang yang rutin menggunakan skincare di malam hari? Atau kamu baru ingin memulainya? Jangan lupa untuk sharing rutinitas skincare malam hari kamu di kolom komentar, ya. Siapa tahu bisa saling bertukar rahasia kulit cerah.

Banyak sekali manfaat skincare di malam hari yang bisa kamu dapatkan, lho. Merawat kulit sudah seharusnya menjadi rutinitas yang perlu dilakukan baik oleh kaum Hawa maupun kaum Adam untuk mendapatkan kulit yang lembap, cerah, dan sehat. Nah, mungkin kamu sudah tidak asing dengan proses perawatan kulit di pagi hari, tapi bagaimana dengan perawatan kulit di malam hari? Banyak sekali orang yang merasa tidak perlu untuk melakukannya karena, toh, malam hari saatnya kulit juga beristirahat. Jangan salah. Ternyata, ada banyak sekali manfaat skincare di malam hari yang hanya bisa didapatkan jika kamu melakukan perawatannya di malam hari. Buat kamu yang masih ragu untuk melakukan perawatan kulit di malam hari, yuk, baca dulu artikel berikut ini. Di malam hari, tuh, kulit kamu kehilangan hampir 25 persen kandungan air. Jumlah ini lebih banyak daripada di siang hari! Kondisi ini normal, kok, karena saat tidur kita tidak minum dalam jangka waktu panjang, yaitu sekitar 7-8 jam.

Tidur di ruangan ber-AC juga dapat membuat kulit kamu menjadi lebih kering dan berkurang elastisitasnya. Oleh karena itu, kamu perlu menggunakan pelembap di malam hari untuk membantu proses regenerasi kulit serta menjaga kelembapannya. Di siang hari, nih, kulit kita telah terpapar sinar matahari, sinar blue light dari perangkat elektronik, polusi, asap rokok, dan hal-hal negatif lainnya. Semua toksin ini ‘menumpuk’ pada permukaan kulit dan apabila tidak dibersihkan dapat memicu masalah sel-sel kulit. Makanya, nih, penting untuk melakukan perawatan wajah di malam hari untuk membantu proses regenerasi kulit kita. Saat kamu tidur memang kulit akan memulihkan sendiri kondisinya. Apabila dibantu dengan skincare yang tepat, nih, tentu saja proses pemulihannya bisa terjadi lebih cepat juga. Ini dia salah satu manfaat skincare di malam hari yang penting untuk kamu ketahui! Di malam hari, tuh, sel-sel kulit kamu akan bekerja untuk memperbaiki diri dengan membuat sel kulit baru lewat pembelahan sel-sel lapisan kulit, kemudian memproduksi lapisan sel kulit baru.

Beragam jenis bisa muncul secara bersamaan. Dari kelompok yang bukan pengidap HIV namun kemudian terinfeksi tuberkulosis, 5-10% di antaranya menunjukkan perkembangan penyakit aktif selama masa hidup mereka. Sebaliknya, dari kelompok yang terinfeksi HIV dan juga terinfeksi tuberkulosis, ada 30% yang menunjukkan perkembangan penyakit aktif. Tuberkulosis dapat menginfeksi bagian tubuh mana saja, tapi paling sering menginfeksi paru-paru (dikenal sebagai tuberkulosis paru). Bila tuberkulosis berkembang di luar paru-paru, maka disebut TB ekstra paru. TB ekstra paru juga bisa timbul bersamaan dengan TB paru. Tanda dan gejala umumnya antara lain demam, menggigil, berkeringat di malam hari, hilangnya nafsu makan, berat badan turun, dan lesu. Dapat pula terjadijari tabuh yang signifikan. Bila infeksi tuberkulosis yang timbul menjadi aktif, sekitar 90%-nya selalu melibatkan paru-paru. Gejala-gejalanya antara lain berupa nyeri dada dan batuk berdahak yang berkepanjangan. Sekitar 25% penderita tidak menunjukkan gejala apapun (yang demikian disebut “asimptomatik”). Kadang kala, penderita mengalami sedikit batuk darah. Dalam kasus-kasus tertentu yang jarang terjadi, infeksi bisa mengikis ke dalam arteri pulmonalis, dan menyebabkan pendarahan parah yang disebut Aneurisma Rasmussen.

Amicosante, M (2010 Apr). McShane, H (12 October 2011). “Tuberculosis vaccines: beyond bacille Calmette-Guérin”. Philosophical transactions of the Royal Society of London. Series B, Biological sciences. 366 (1579): 2782-9. doi:10.1098/rstb.2011.0097. Centers for Disease Control and Prevention. Public Health Agency of Canada. Teo, SS (2006 Jun). Archives of Disease in Childhood. David A. (2005). Sections 1 – 10 (edisi ke-4. Oxford Univ. Press. hlm. Brennan PJ, Nikaido H (1995). “The envelope of mycobacteria”. Menzies, D (2011 Mar). The Indian journal of medical research. Arch G., III Mainous (2010). Management of Antimicrobials in Infectious Diseases: Impact of Antibiotic Resistance. Volmink J, Garner P (2007). “Directly observed therapy for treating tuberculosis”. Cochrane Database Syst Rev (4): CD003343. Liu, Q (2008 Oct 8). “Reminder systems and late patient tracers in the diagnosis and management of tuberculosis”. Cochrane database of systematic reviews (Online) (4): CD006594. O’Brien R (1994). “Drug-resistant tuberculosis: etiology, management and prevention”. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) (2006). “Emergence of Mycobacterium tuberculosis with extensive resistance to second-line drugs-worldwide, 2000-2004”. MMWR Morb Mortal Wkly Rep.

Griffith D, Kerr C (1996). “Tuberculosis: disease of the past, disease of the present”. ATS/CDC Statement Committee on Latent Tuberculosis Infection (200). “Targeted tuberculin testing and treatment of latent tuberculosis infection. American Thoracic Society”. Zyl Smit, RN (2010 Jan). The European respiratory journal : official journal of the European Society for Clinical Respiratory Physiology. 35 (1): 27-33. PMID 20044459. These analyses indicate that smokers are almost twice as likely to be infected with TB and to progress to active disease (RR of ∼1.5 for latent TB infection (LTBI) and RR of ∼2.0 for TB disease). Perokok juga memiliki peluang meninggal karena TB yang lebih besar (Risiko Relatif ∼2.0 dari seluruh angka kematian akibat TB), namun data yang ada sulit diinterpretasikan karena keberagaman/heterogenitas hasil yang didapatkan dari berbagai penelitian berbeda. Restrepo, BI (15 August 2007). “Convergence of the tuberculosis and diabetes epidemics: renewal of old acquaintances”. Clinical infectious diseases : an official publication of the Infectious Diseases Society of America.

Southwick F (10 December 2007). “Chapter 4: Pulmonary Infections”. Infectious Diseases: A Clinical Short Course, 2nd ed. McGraw-Hill Medical Publishing Division. Jindal, editor-in-chief SK. Textbook of pulmonary and critical care medicine. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers. Niederweis M, Danilchanka O, Huff J, Hoffmann C, Engelhardt H (2010). “Mycobacterial outer membranes: in search of proteins”. Madison B (2001). “Application of stains in clinical microbiology”. Parish T, Stoker N (1999). “Mycobacteria: bugs and bugbears (two steps forward and one step back)”. Molecular Biotechnology. 13 (3): 191-200. doi:10.1385/MB:13:3:191. Medical Laboratory Science: Theory and Practice. New Delhi: Tata McGraw-Hill. Piot, editors, Richard D. Semba, Martin W. Bloem; foreword by Peter (2008). Nutrition and health in developing countries (edisi ke-2nd ed.). Totowa, NJ: Humana Press. Soolingen D; et al. 1997). “A novel pathogenic taxon of the Mycobacterium tuberculosis complex, Canetti: characterization of an exceptional isolate from Africa”. International Journal of Systematic Bacteriology. Niemann S; et al.

Leave a Comment